[FIKSI] SARJANA AKUNTANSI MENJADI MUSISI

[Maaf masih belajar hehe]


Sang surya hampir tenggelam dengan menghadirkan bekas jingga. Aku berdiri gagah menunggu kereta tiba. Beranjak dari zona nyaman dan siap mengadu nasib di Ibukota. Haru memang harus melepas ria gempita tanah kelahiranku nan asri. Sedih pula pamit bepergian kepada Ibu dan Bapak dengan waktu yang tidak singkat. Namun demi peningkatan kualitas mata pencaharian, aku mesti bergerak ke tempat menjanjikan itu.
Ini pertama kalinya aku ke kota. Dari lahir sampai berkuliah selalu di desa. Desaku sudah cukup maju sehingga perguruan tinggi berkualitas pun telah mudah dijumpai. Setelah lulus dari pesantren ingin sekali rasanya melanjutkan kuliah di Jakarta namun saat itu kondisi ekonomi keluarga sedang menurun drastis karena sawah dan kebun Bapak gagal panen. Rumah kami juga kebobolan maling, semua harta ludes. Akhirnya aku memutuskan untuk bekerja satu tahun untuk membantu memulihkan perekonomian kami. Setelah itu aku mendaftar kuliah dan mengambil jurusan Akuntansi sebab aku sangat menyenangi pelajaran itu. Sebenarnya kondisi kami sudah membaik dan Bapak mampu membiayaiku diperantauan. Namun, semenjak kejadian buruk menimpa, aku khawatir dengan kedua orang tuaku, nanti tak ada yang menjaga mereka. Aku adalah anak tunggal.
Akhirnya aku sampai di Jakarta tepat di waktu subuh. Galih Permana, pria berumur 23 tahun (merasa) amat terlambat mengagumi dinamika Ibukota. Walaupun baru sekarang ke kota namun aku tidak linglung berkat menggali pengetahuan dari kecanggihan teknologi. Jejak demi jejak menghantarkan keluar stasiun menuju si roda empat dengan biaya sewa terjangkau. Aku hendak menuju kos yang telah kubayar dua bulan. Masih cukup pagi, aku istirahat sebentar dan mengumpulkan tenaga untuk survei ke kantor yang telah menerima lamaranku via surat elektronik. Wawancara pun sudah kulaksanakan melalui video call karena itu diperbolehkan bagi pelamar yang jarak rumahnya jauh. Selain survei, ada serangkaian wawancara lanjutan secara offline. Kini saatnya aku berangkat.
Aku menggunakan jasa ojek online menuju ke Kantor Bersahaja. Hampir sampai ke tempat tujuan, aku sedikit kebingungan menyaksikan suasana tak biasa. Bunyi sirine turut menyertai suara-suara tanya dalam hatiku
Tiba di kantor, aku amat terkejut. Mobil pemadam kebakaran berseliweran. Ternyata kantor itu telah habis di lahap si jago merah. Aku bertanya ke sana ke mari penyebab terjadinya. Semua panik dan linglung tak terkecuali salah satu pegawai yang tak sengaja aku tanyakan juga.
“Kamu calon pegawai baru di sini?” tanya dia.
“Iya Pak. Kenapa ini bisa…” kalimatku dipotong olehnya.
“Ini semua akibat ulah orang-orang tak bertanggung jawab yang terindikasi perusahaan saingan kita. Saya kenal beberapa orang di sana dan kebetulan saya memergoki mereka menyirami bensin. Langsung saya foto dan kirimkan ke grup kantor. Namun aksi saya ketahuan. Saya langsung di seret ke mobil dan di bawa ke tempat tersembunyi. Untungnya saya berhasil kabur dan foto itu sudah ada di tangan polisi. Semoga kasus ini segera dituntaskan.”
“Ya ampun! Saya turut prihatin Pak. Mudah-mudahan keadaan kantor ini bisa secepatnya membaik dan pelaku dihukum setimpal.”
“Terimakasih Nak. Bapak juga tidak bisa bantu apa-apa. Bapak harap kau akan dapat pekerjaan yang lebih baik. Butuh waktu lama Nak untuk mengembalikan kondisi seperti sedia kala.”

Aku balik ke kos disertai hati terkoyak-koyak dan pikiran kacau balau. Sakit, perih, pusing, tumpukan pisau seakan menghujam seluruh anggota tubuh. Akan tetapi aku tidak gentar. Besok cari kerja lagi!
“Maaf tidak ada lowongan”, “Maaf posisi itu sudah terisi”, “Maaf perusahaan kami sedang defisit, tidak bisa menerima pegawai baru”.
Berbagai kata maaf dengan versinya masing-masing kudengar setiap harinya. Melamar sana sini hasilnya nihil, keuangan semakin menipis, sewa kos tersisa satu bulan. 
“Usaha sudah, doa sudah, alangkah baiknya aku santai sejenak sambil memetik gitar kesayangan. Eh kenapa aku tidak mengamen saja ya? Daripada berdiam diri sambil meratapi dompet yang semakin kurus, lebih baik aku manfaatkan kemampuanku dalam bermusik. Hobi berbuah rupiah” aku berceloteh sendiri.
Keesokan hari benar saja, aku langsung merealisasikan ide gila itu. Hempaskan sejenak berkas-berkas lusuh itu, marilah menjemput rezeki dengan alunan nada-nada indah. Uang jerih payah dari mengamen banyak juga. Komentar positif pun selalu berdatangan padahal aku masih merasa amatiran. 
...
Hari ini tepat hari kelima belas atau setengah bulan. Aku masih menggeluti profesi musisi jalanan. Akan tetapi ada kejadian unik sekaligus menakutkan. Mimpi apa aku semalam sehingga harus mengalami ini.
“Hai anak muda! Sini kau!” seruan tegas seorang polisi dari kejauhan.
“Aduh kok polisi memanggilku? Dekati atau kabur ya? Hadapi saja! Aku kan tidak berbuat onar, untuk apa takut.” kaki melangkah menuju pria berbadan kekar itu.
“Hahaha… Perkenalkan namaku Suryo, namamu siapa nak?”
“Nama saya Galih Pak, ada apa Bapak memanggil saya?”
“Kamu tidak layak menjadi pengamen, lagipula pekerjaanmu itu mengganggu ketertiban jalan, lebih baik kamu ikut saya!” nada bicaranya membuat merinding.

Aku tak berkutik. Langsung saja Pak Suryo membawaku dengan mobilnya. Aku pasrah, mungkin inilah nasib hidupku, buruk seburuk-buruknya.
“Nah kita sudah sampai.” ujar Pak Suryo.
“Ini kafe kan Pak? Bapak tidak salah? Bukankah saya ingin dibawa ke kantor polisi?”
Pak Suryo hanya tersenyum tipis sembari menyapa seorang pria tampan, bersih dan wangi.
“Indra…”
“Hai Paman, ada apa kemari dan siapa dia?” pria itu menatapku tajam.
“Ibumu bilang kamu sedang mencari musisi untuk hiburan di kafe. Paman telah temukan orangnya. Dia pengamen namun suara dan petikan gitarnya sangat merdu. Paman sering mendengar anggapan bagus mengenai dirinya dari orang-orang.”
Setelah bercakap-cakap, aku pun menjalani tes terlebih dahulu. Mas Indra tidak mungkin menerimaku cuma-cuma apalagi ini semua demi menunjang daya tarik kafenya. Syukurlah Mas Indra suka dan mempersilahkanku untuk langsung tampil esok malam di depan tamu-tamu nan glamor. 
Kini tak perlu lagi terpapar polusi dalam mengais receh demi receh. Penghasilanku lebih besar dan tak jarang banyak pengunjung yang memberi tip. Mas Indra mengetahui hal itu dan dengan kemurahan hatinya, dia tidak meminta sepeser pun dari uang itu. 
Genap sudah dua bulan aku di sini, bukan sebagai akuntan berdasi namun musisi kucar-kacir. Kedai kopi modern ini semakin ramai dikunjungi karena hadirnya diriku, begitulah cara Mas Indra memuji pria biasa ini. Remaja pemburu Wi-Fi pun selalu mewarnai tempat ini. Namun malam ini ada pemandangan berbeda. Di pojok dekat jendela duduk sendirian seorang anak muda. Sesekali kepalanya digaruk, aku rasa ia sedang pening. Selepas bernyanyi, aku beranikan diri untuk mendekati anak itu.
“Hai Dik, apa ada yang bisa saya bantu? Maaf lancang, saya perhatikan adik ini sedang dirundung masalah.” 
“Tidak apa-apa Kak. Iya Kak aku sedang pusing, data tugasku hilang semua padahal batas waktu pengumpulan esok hari. Aku bingung ingin memulai darimana. Susah payah aku kerjakan, materinya pun cukup sulit. Panggil saja aku Ari. Aku mahasiswa tingkat lima, jurusan akuntansi.”
“Wah kebetulan sekali Ari. Saya lulusan akuntansi, barangkali saya bisa sedikit menolong kamu. Oh iya nama saya Galih.”
“Benarkah? Akhirnya sang penyelamat datang. Terimakasih sudah bersedia membantu.”
Aku menjadi tutor untuk Ari sekaligus berkontribusi dalam penyelesaian tugasnya. Tepat tengah malam bersamaan dengan tutupnya kafe, semuanya rampung. Ada perasaan lega dalam hati Ari, rona wajah rupawannya terlihat nyata.
“Kak Galih hebat sekali! Lagi-lagi aku sangat berterima kasih hehe.” nada suara semangat membara dari seorang Ari.
“Sama-sama Ri.”
“Omong-omong kenapa Kak Galih tidak menjadi akuntan atau dosen saja? Kemampuan Kakak sangat fantastis! Perusahaan Papaku sedang butuh akuntan baru, aku belum bisa menempati posisi itu karena masih sibuk kuliah. Kak Galih bersedia?”
(aku tertegun dan diam sejenak)
“Terima saja Gal. Saya yakin kamu berkompeten dalam bidang itu, sampai-sampai pemuda ini langsung menawarkan kedudukan itu padahal belum 24 jam kalian saling mengenal.” ujar Mas Indra.
Aku gembira dan bersyukur jika dapat bekerja di perusahaan. Mas Indra pun sangat mendukungku walaupun terasa berat harus kehilangan musisi lagi. Aku siap bertarung besok atau lusa!
Tak terasa semua telah usai dan terlaksana dengan lancar. Diterima atau tidak aku tetap bersyukur. Hidup memang tak terlepas dari teka-teki, manusia harus selalu siap dalam menyikapi. Hasilnya diumumkan dalam kurun waktu yang cepat, yaitu satu minggu setelah wawancara. Aku dinyatakan lulus. Alhamdulillah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERIMA KASIH DIRIKU

SELAMAT TINGGAL

PERIHAL KEBAHAGIAAN