Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

SEMUA BERAWAL DARI MASJID (2)

Desember 2019 Banyak cerita telah terukir selepas masuk LDK. Pahit, manis, dan getirnya sudah pula aku rasakan semua. Kisah-kisah itu didominasi oleh keceriaan, canda tawa, dan variasi senyuman dalam balutan persaudaraan. Pelantikan itu berlangsung pada April 2019 yang berarti sudah delapan bulan aku menjadi bagian dari LDK. Agendaku semakin padat dari hari ke hari. Titik puncak kesibukanku adalah saat bulan Desember. Pendek kata, aku dan kawanku itu ditetapkan sebagai bakal calon Ketua Keputrian LDKS FISIP masa periode 2020-2021, bersama dengan empat kawan lainnya. Sedangkan bakal calon Ketua Umum terdiri atas lima mahasiswa laki-laki yang juga teman satu angkatanku. Sungguh amat berat bagiku menerima kepercayaan itu. Aku tidak bermimpi untuk menjadi ketua, bahkan terbesit niat setitik pun tidak. Kawan-kawanku merasakan hal yang serupa. Semua merasa tidak layak, terlebih diriku. Bagiku, siapa saja pantas untuk menakhodai LDKS FISIP, namun tidak dengan diriku. Walaupun teras...

SEMUA BERAWAL DARI MASJID (1)

Tahun 2018 Aku meloka ke arah luar jendela kelas, nampak sang surya bersinar gagah menunjukkan cahaya bersuhu cukup tinggi. Tidak terasa bahwa mata kuliah sudah usai. Saatnya bergegas menuju rumah Allah untuk menunaikan kewajiban. Segera aku menuju keran dan membersihkan hadas kecil, untuk kemudian salat Zuhur berjamaah. Siang yang berbeda dari biasanya. Entah mengapa aku tidak begitu nafsu untuk melahap makanan. Maka kuputuskan untuk melewatkan makan siang setelah salat. Untuk mengisi masa lapang, aku membuka-buka sebuah buku yang sarat akan substansi. Aku adalah tipikal mahasiswa yang tidak senang untuk langsung pulang. Aku lebih suka menghabiskan waktu di kampus, tentunya dengan melakukan hal bermanfaat. Hari itu, aku ingin mengikuti sebuah seminar "Public Speaking" yang diadakan oleh jurusan tetangga, Hub. Internasional, mengingat aku adalah anak Ilmu Politik yang bernaung pada satu fakultas dengan HI dan Sosiologi. Acara dimulai pada pukul dua siang. Memasuki waktu...

AMANAH DI TENGAH WABAH

Kuliah jarak jauh? Serba online? Kegiatan UKM dibekukan? Wah gimana proker gue? Nanti mau laporan apa pas LPJ-an? Eitsss... Stop dulu yuk pusing-pusingnya. Kalau ada problem, langsung aja fokus ke bagaimana memecahkannya, jangan ribut sendiri ga karuan; masalah bukannya selesai malah tambah banyak. Inilah momentum terbaik untuk mengambil hikmah. Kamu sibuk kuliah dan berorganisasi; ada rapat lah, nugas lah, sampe-sampe di rumah cuma numpang tidur. Kini kamu bisa maksimalin diri untuk ada waktu bersama keluarga dengan #DirumahAja dan bisa bantu orang tua. Bagi yang tidak pulang ke kampung halaman pun tetap bisa mengambil hikmah, salah satunya dengan mengembangkan hobi, entah memasak, design, dan lain-lain. Tapi aku anaknya outdoor bgt, ga betah di rumah terus, gimana dong? Ya ga gimana-gimana. Selama ini kamu lelah, kalau tubuhmu bisa bicara, dia udah teriak kencang karena kelelahan, maka dari itu Allah Swt. sedang memberimu waktu istirahat. Loh istirahat gimana? Tugas ya m...

TIPE TEMEN (VERSI) GUE

"Wah apa-apaan lu! Kok mengkotak-kotakan?" "Jangan milih-milih temen dong! Gitu amat sih!" Eitsss... Ntar dulu, komentarnya setelah baca semua, jangan lihat judulnya aja hehe. Cerita dulu nih, jadi dari kecil sampe usia SD, gue sering banget denger redaksi "jangan pilih-pilih temen" , intinya temenan itu sama siapa aja. Namanya masih bocah ya, gue mikirnya lebih ke arah materi; gue harus tetep temenan sama siapapun, ga peduli dia kaya atau kurang mampu, semua sama aja. It's ok, sejauh itu ga ada masalah samasekali. Masuk ke dunia SMP, mindset gue berubah. Status sosial bukan satu-satunya tolok ukur; mikirnya udah mulai ke ranah kebiasaan nih. Jadi semasa SMP, gue makin banyak kenal orang dengan tipikal yang berbeda-beda. Gue pun semakin tau bahwa ternyata dunia remaja sekeras ini, pas kecil sering banget denger kalimat (sorry to say): pergaulan bebas dan kenakalan remaja. Gue ga ngalamin itu, tapi merinding pas tau bahwa temen gue banyak ya...

SELAMAT TINGGAL

Hari itu aku datang dengan penuh harap Postur gagah mengalahkan pengawal kerajaan Pikiran cemerlang bak baju baru tersegel Rasa optimis mengalahkan ketakutan berlebih Aku berharap dapat berkontribusi selalu Dengan terlibat aktif dalam momen berharga Sayangnya realita mengikis habis angan-angan Aku terjebak dunia semu penuh sandiwara Aku terpinggirkan oleh penjajah psikologis Akankah aku mundur tanpa permisi? Tidak, aku bukan penakut Aku bukan buronan Aku hanya ingin sistem itu berubah Aku tak ingin terus terkungkung di tengah wilayah nepotis Terbebas tanpa batas, keluar dari kenyamanan Silahkan perdaya diriku sesuka hati Kau tak lebih dari kawan berbasis kepentingan Selamat tinggal wahai kawan Aku tak pergi, hanya ingin menempuh jalan baru Sekali lagi selamat tinggal Kini aku tersadar bahwa jalan kita berbeda

TERIMA KASIH DIRIKU

Menghakimi diri bukanlah solusi Menghentikan langkah kaki tak layak menjadi opsi Berbenah diri jauh lebih berarti Sembari membuka terpendamnya potensi Wahai diri yang lemah Aku paham kita telah bersusah payah Mengerahkan segala upaya Meski semua ini tak menghasilkan upah Apakah pantas kita mundur? Apakah kebiasaan kita adalah kufur? Lantas sekali lagi kutanya, apakah kau ingin terus futur? Jujur saja, banyak godaan menyuruh untuk kabur Diriku adalah sahabatku Ia senantiasa kuat meski kupaksa terjaga Sahabatku begitu tangguh Entah apa yang dia harapkan dariku Wahai jiwa yang lelah... Apa yang membuatmu bertahan? Mengapa kau masih sudi bersinergi dengan raga buruk rupa? Jawabannya adalah kenikmatan jalan dakwah Dakwah membuatku pantang menyerah Dakwah menghantarkan pada nikmatnya ukhuwah Masihkah berpikir picik meninggalkan jalan ini? Sudahi pikiran itu, Tuhan percaya pundakmu amat kokoh Ya Allah... Terima kasih telah menguatkan jasad ini Aku bertekad lebi...

DAPAT PERAN KECIL? BISA APA?

Di rumah sendiri (mungkin) kamu bukan siapa-siapa, namun bagi dunia keberadaanmu sangat berharga. Dunia butuh orang yang pantang menyerah, bukan sekadar orang yang famous dan perannya diperhitungkan dalam kandangnya. Ayo bergerak! Ayo keluar! Ayo jangan lembek! Tiba-tiba kumpulan diksi itu muncul di kepala gua, lagi-lagi berangkat dari kehidupan yang gua jalani selama ini. Acapkali gua nemuin orang yang (bahasa kasarnya) ga terkenal amat di kampusnya, tapi pas gua liat pencapaiannya gila luar biasa banget, doi dikenal dan mengenal teman-teman dari sabang sampai merauke, bahkan gua juga punya banyak senior yang ga famous di fakultas eh ternyata di luar sana prestasinya segudang bahkan udah bolak-balik luar negeri. Nah dari sana gua mulai meratapi nasib... Ya nggak lah, maksudnya gua mulai meresapi dalam-dalam arti dari sebuah kehidupan. Ada kalanya memang kita bukan siapa-siapa di lingkungan sendiri, baik itu di kampus, sekolah, bahkan kampung halaman, gua dapat dikatakan ada di po...

PERIHAL KEBAHAGIAAN

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Setiap manusia ingin bahagia dan mereka berhak mendapatkannya terlepas dari cara meraih yang digunakan. Namun di sini aku tidak berbicara tentang how to get happines. Aku ingin lebih membahasakan kebahagiaan versi diriku. Kalau boleh cerita sedikit, jadi aku itu pas SMA punya tiga sahabat yang senantiasa ngerangkul aku dan mengajak pada kebaikan, sebut saja Nisa, Lina dan Ismul, ya sebut saja seperti itu karena memang nama aslinya. Sejujurnya aku sudah begitu kecewa dengan kata "sahabat" karena bagiku semua itu omong kosong belaka, orang yang kuanggap sahabat hanya datang lalu pergi meninggalkan luka dalam. Namun semenjak pertemuanku dengan mereka, tiga sahabatku, aku mulai percaya bahwa sahabat itu benar adanya, mereka senantiasa mengajakku pada kebaikan mulai dari membiasakan sholat sunnah, memperbaiki gaya berpakaian agar selayaknya seorang muslimah, meningkatkan antusiasme tinggi terhadap matematika (yang awalnya begit...