PERIHAL KEBAHAGIAAN
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Setiap manusia ingin bahagia dan mereka berhak mendapatkannya terlepas dari cara meraih yang digunakan. Namun di sini aku tidak berbicara tentang how to get happines. Aku ingin lebih membahasakan kebahagiaan versi diriku.
Kalau boleh cerita sedikit, jadi aku itu pas SMA punya tiga sahabat yang senantiasa ngerangkul aku dan mengajak pada kebaikan, sebut saja Nisa, Lina dan Ismul, ya sebut saja seperti itu karena memang nama aslinya. Sejujurnya aku sudah begitu kecewa dengan kata "sahabat" karena bagiku semua itu omong kosong belaka, orang yang kuanggap sahabat hanya datang lalu pergi meninggalkan luka dalam. Namun semenjak pertemuanku dengan mereka, tiga sahabatku, aku mulai percaya bahwa sahabat itu benar adanya, mereka senantiasa mengajakku pada kebaikan mulai dari membiasakan sholat sunnah, memperbaiki gaya berpakaian agar selayaknya seorang muslimah, meningkatkan antusiasme tinggi terhadap matematika (yang awalnya begitu kubenci), hingga pada urusan remeh temeh soal percintaan anak muda labil. Uniknya lagi, misi kita bukan lagi menjadi "best friend forever" akan tetapi "best friend till jannah", lebih dari sekadar selamanya di dunia yang fana, kami juga ingin berkumpul di surga. Pikiranku menjadi semakin terbuka sambil berkata: "oh iya ya, kita masuk surga harus bareng-bareng dong, saling bersinergi sampai di akhirat jangan cuma leyeh-leyeh di dunia." Kita pun menyebut kelompok kita dengan nama "Javi", mau tau artinya? Mau ga mau harus tau wkwk, jadi Javi itu singkatan dari "Jannah Vicinity" (perpaduan Arab-Inggris), kalau ga salah artinya itu sekitaran surga dan nama tersebut diciptakan oleh salah satu dari kita, siapa tuh? Yang pasti bukan aku, belum jago bikin nama-nama gituan wkwk. Pokoknya aku merasa bahwa SMA adalah masa sekolah terindah, bagaimana tidak indah? Bertemu sahabat baik, mulai suka matematika, semakin memahami diri untuk senantiasa mendekatkan diri pada Allah Swt. dan masih banyak cerita lain yang akan kutorehkan di lain kesempatan. Sorry to say, SD aku selalu terbully (ga ngerti salahku dimana, aku pun ga mau dendam, sudah berlalu juga), SMP masih terbully walau tak separah SD, namun di masa ini aku sedang bobrok-bobroknya, sekolah asal sekolah, dan hidup tidak karuan. SMA pun sebenarnya masih dibully juga ke arah verbal namun hanya sesaat, setelah itu i don't care, this my self, mereka ga berhak ganggu hidup aku, it's ok. Intinya mah SMA paling 'wah' deh, akan ada cerita khusus untuk ini hehe.
Pertanyaannya, apa korelasinya sama judul? Nah bermula dari persahabatan itu aku terus berpikir "eh ternyata enak ya punya orang-orang yang deket bgt sama kita dan bisa diajak sharing, terus juga mengajak untuk berbuat baik dan senantiasa berada di jalan Allah Swt., seneng bgt dah pokoknya, gua berharap ketika kuliah nanti bisa punya sahabat kaya Javi." Aku selalu berharap kepada Allah Swt. agar kembali mempertemukanku dengan kawan yang memberi pengaruh positif. Aristoteles, seorang filsuf Yunani mengatakan bahwa kebahagiaan (eudaimonia) adalah tujuan daripada manusia. Dalam konteks filsafat politik, kebahagiaan bisa diraih manakala manusia memiliki kesejahteraan yang bisa didapatkan dari interaksi dan rasa saling membutuhkan antar individu yang pada akhirnya menghasilkan sebuah negara. Terlepas dari tokoh filsafat yang lain dengan pemikiran yang berbeda pula, konsep kebahagiaan Aristoteles amat relate dengan diriku. Aku menjadikan kebahagiaan sebagai (salah satu) tujuan hidupku, baik di dunia maupun akhirat kelak.
Maaf melebar ke filsafat wkwk, singkat cerita aku gap year (menunda kuliah), aku menunda satu tahun, jadinya lulus SMA tahun 2017 tetapi mulai kuliah tahun 2018. Aku diterima di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tepatnya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) jurusan Ilmu Politik. Harapanku lebih kurang sama dengan mahasiswa lain. Harapan itu seperti ingin cumlaude, IPK tinggi, lulus cepat, dapat pekerjaan bagus, karier cemerlang, dan lain sebagainya. Namun ada satu harapanku yang tidak dalam ranah akademis ataupun karier. Harapan itu ialah bisa bertemu sahabat sejati.
Pada awalnya aku mengira bahwa kebahagiaan itu akan datang ketika kita kaya dan bisa membeli segalanya, itu pemikiranku waktu kecil. Namun setelah memasuki usia remaja sampai menuju fase dewasa, aku kembali merenung, banyak di luar sana yang kaya tetapi tidak bahagia, entah karena masalah keluarga, rumah tangga, terjangkit penyakit, dan lain sebagainya. Benar adanya "bahagia itu sederhana", banyak makna bahagia yang kutemukan, sesederhana naik transjakarta atau KRL dan mendapat tempat duduk.
Pada awalnya aku berekspektasi tinggi untuk memiliki sahabat di perkuliahan walaupun banyak yang berkata bahwa kuliah itu lebih keras, potensi individualis jauh lebih tinggi dibanding masa sekolah. Ya, pernyataan itu tidak sepenuhnya salah karena aku sempat mengalaminya. Aku mengalami berbagai gejolak, susah percaya pada kawan manapun, bukan karena mereka berdusta, hanya saja hati nuraniku memang belum menemukan goalsnya yang lagi-lagi kebahagiaan. Aku sempat muak dengan dunia perkuliahan, aku masih saja mengalami bully-an, analisaku selama ini mungkin benar, aku dibully karena wajahku tak cantik dan terlihat seperti bukan manusia. Suaraku juga lantang. Ya mau bagaimana lagi, wajah yang susunannya sempurna ini adalah anugerah dari Tuhan, suara pun ini faktor genetik dari keluarga saya yang notabenenya memiliki suara keras.
Semester 1 aku sering ngedown. Aku yang mulanya banyak beretorika di kelas tapi setelah mendapat bullyan dan tekanan malah jadi pendiam. Aku juga lelah karena belum saja menemukan partner yang klop. Cerita ini sebenarnya berhubungan erat dengan tulisanku sebelumnya yang berjudul "Organisatoris dan Relasi", maka dari itu tanpa berpanjang kalam tak perlu kiranya bertele-tele di bagian ini, intinya aku sangat terpuruk di masa ini.
Memasuki semester 2, dapat dikatakan ini awal kebangkitan seorang Rifka Ade Harfiyanti. Aku mulai membobol tembok pembatas yang selama ini mengkungkung diri. Aku mulai berontak pada mereka yang kusebut "kawan berbasis kepentingan". Tidak ada kata takut dalam kamusku, aku bisa berkembang dengan caraku sendiri tanpa harus disetir sana-sini. Aku mulai berani berkelana, bukan sekadar mencari nama, aku ingin berguna sebagai manusia. Akan kubuktikan bahwa yang melawan arus juga bisa bahagia dengan metodenya sendiri. Jujur saja sampai hari ini aku tidak menyesal sama sekali dengan keputusanku untuk menjadi berbeda, malah aku bahagia karena dengan cara ini aku menemukan banyak kawan yang bisa banget dijadiin tempat ketawa sekaligus menangis. Aku pun bersyukur hingga detik ini karena Allah Swt. selalu menyatukanku dengan orang-orang baik yang menerimaku apa adanya.
Pesan yang ingin kuutarakan bahwa kebahagiaan setiap individu itu berbeda-beda dan acapkali kebahagiaan itu harus diperjuangkan walau harus menentang arus sekalipun, namun bukan berarti kita harus menentang agama dan merugikan orang lain, tidak, tidak seperti itu. Yang aku maksudkan ialah bagaimana kita harus berani menghadapi berbagai macam risiko untuk meraih apa yang kita kejar. Kebahagiaan bagiku sesimple "punya kawan" yang mau temenan sama kita dalam kondisi apapun dan sabar menghadapi baik buruknya kita. Tabiatku cukup buruk karena agak emosional namun Allah Maha Penyayang karena tidak membiarkanku sendirian, tidak terbayang jika karena sifatku ini menjadikan tidak ada yang mau berkawan denganku. Selamat bahagia! Semoga terus bahagia dan jangan lupa bersyukur!
Kalau boleh cerita sedikit, jadi aku itu pas SMA punya tiga sahabat yang senantiasa ngerangkul aku dan mengajak pada kebaikan, sebut saja Nisa, Lina dan Ismul, ya sebut saja seperti itu karena memang nama aslinya. Sejujurnya aku sudah begitu kecewa dengan kata "sahabat" karena bagiku semua itu omong kosong belaka, orang yang kuanggap sahabat hanya datang lalu pergi meninggalkan luka dalam. Namun semenjak pertemuanku dengan mereka, tiga sahabatku, aku mulai percaya bahwa sahabat itu benar adanya, mereka senantiasa mengajakku pada kebaikan mulai dari membiasakan sholat sunnah, memperbaiki gaya berpakaian agar selayaknya seorang muslimah, meningkatkan antusiasme tinggi terhadap matematika (yang awalnya begitu kubenci), hingga pada urusan remeh temeh soal percintaan anak muda labil. Uniknya lagi, misi kita bukan lagi menjadi "best friend forever" akan tetapi "best friend till jannah", lebih dari sekadar selamanya di dunia yang fana, kami juga ingin berkumpul di surga. Pikiranku menjadi semakin terbuka sambil berkata: "oh iya ya, kita masuk surga harus bareng-bareng dong, saling bersinergi sampai di akhirat jangan cuma leyeh-leyeh di dunia." Kita pun menyebut kelompok kita dengan nama "Javi", mau tau artinya? Mau ga mau harus tau wkwk, jadi Javi itu singkatan dari "Jannah Vicinity" (perpaduan Arab-Inggris), kalau ga salah artinya itu sekitaran surga dan nama tersebut diciptakan oleh salah satu dari kita, siapa tuh? Yang pasti bukan aku, belum jago bikin nama-nama gituan wkwk. Pokoknya aku merasa bahwa SMA adalah masa sekolah terindah, bagaimana tidak indah? Bertemu sahabat baik, mulai suka matematika, semakin memahami diri untuk senantiasa mendekatkan diri pada Allah Swt. dan masih banyak cerita lain yang akan kutorehkan di lain kesempatan. Sorry to say, SD aku selalu terbully (ga ngerti salahku dimana, aku pun ga mau dendam, sudah berlalu juga), SMP masih terbully walau tak separah SD, namun di masa ini aku sedang bobrok-bobroknya, sekolah asal sekolah, dan hidup tidak karuan. SMA pun sebenarnya masih dibully juga ke arah verbal namun hanya sesaat, setelah itu i don't care, this my self, mereka ga berhak ganggu hidup aku, it's ok. Intinya mah SMA paling 'wah' deh, akan ada cerita khusus untuk ini hehe.
Pertanyaannya, apa korelasinya sama judul? Nah bermula dari persahabatan itu aku terus berpikir "eh ternyata enak ya punya orang-orang yang deket bgt sama kita dan bisa diajak sharing, terus juga mengajak untuk berbuat baik dan senantiasa berada di jalan Allah Swt., seneng bgt dah pokoknya, gua berharap ketika kuliah nanti bisa punya sahabat kaya Javi." Aku selalu berharap kepada Allah Swt. agar kembali mempertemukanku dengan kawan yang memberi pengaruh positif. Aristoteles, seorang filsuf Yunani mengatakan bahwa kebahagiaan (eudaimonia) adalah tujuan daripada manusia. Dalam konteks filsafat politik, kebahagiaan bisa diraih manakala manusia memiliki kesejahteraan yang bisa didapatkan dari interaksi dan rasa saling membutuhkan antar individu yang pada akhirnya menghasilkan sebuah negara. Terlepas dari tokoh filsafat yang lain dengan pemikiran yang berbeda pula, konsep kebahagiaan Aristoteles amat relate dengan diriku. Aku menjadikan kebahagiaan sebagai (salah satu) tujuan hidupku, baik di dunia maupun akhirat kelak.
Maaf melebar ke filsafat wkwk, singkat cerita aku gap year (menunda kuliah), aku menunda satu tahun, jadinya lulus SMA tahun 2017 tetapi mulai kuliah tahun 2018. Aku diterima di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tepatnya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) jurusan Ilmu Politik. Harapanku lebih kurang sama dengan mahasiswa lain. Harapan itu seperti ingin cumlaude, IPK tinggi, lulus cepat, dapat pekerjaan bagus, karier cemerlang, dan lain sebagainya. Namun ada satu harapanku yang tidak dalam ranah akademis ataupun karier. Harapan itu ialah bisa bertemu sahabat sejati.
Pada awalnya aku mengira bahwa kebahagiaan itu akan datang ketika kita kaya dan bisa membeli segalanya, itu pemikiranku waktu kecil. Namun setelah memasuki usia remaja sampai menuju fase dewasa, aku kembali merenung, banyak di luar sana yang kaya tetapi tidak bahagia, entah karena masalah keluarga, rumah tangga, terjangkit penyakit, dan lain sebagainya. Benar adanya "bahagia itu sederhana", banyak makna bahagia yang kutemukan, sesederhana naik transjakarta atau KRL dan mendapat tempat duduk.
Pada awalnya aku berekspektasi tinggi untuk memiliki sahabat di perkuliahan walaupun banyak yang berkata bahwa kuliah itu lebih keras, potensi individualis jauh lebih tinggi dibanding masa sekolah. Ya, pernyataan itu tidak sepenuhnya salah karena aku sempat mengalaminya. Aku mengalami berbagai gejolak, susah percaya pada kawan manapun, bukan karena mereka berdusta, hanya saja hati nuraniku memang belum menemukan goalsnya yang lagi-lagi kebahagiaan. Aku sempat muak dengan dunia perkuliahan, aku masih saja mengalami bully-an, analisaku selama ini mungkin benar, aku dibully karena wajahku tak cantik dan terlihat seperti bukan manusia. Suaraku juga lantang. Ya mau bagaimana lagi, wajah yang susunannya sempurna ini adalah anugerah dari Tuhan, suara pun ini faktor genetik dari keluarga saya yang notabenenya memiliki suara keras.
Semester 1 aku sering ngedown. Aku yang mulanya banyak beretorika di kelas tapi setelah mendapat bullyan dan tekanan malah jadi pendiam. Aku juga lelah karena belum saja menemukan partner yang klop. Cerita ini sebenarnya berhubungan erat dengan tulisanku sebelumnya yang berjudul "Organisatoris dan Relasi", maka dari itu tanpa berpanjang kalam tak perlu kiranya bertele-tele di bagian ini, intinya aku sangat terpuruk di masa ini.
Memasuki semester 2, dapat dikatakan ini awal kebangkitan seorang Rifka Ade Harfiyanti. Aku mulai membobol tembok pembatas yang selama ini mengkungkung diri. Aku mulai berontak pada mereka yang kusebut "kawan berbasis kepentingan". Tidak ada kata takut dalam kamusku, aku bisa berkembang dengan caraku sendiri tanpa harus disetir sana-sini. Aku mulai berani berkelana, bukan sekadar mencari nama, aku ingin berguna sebagai manusia. Akan kubuktikan bahwa yang melawan arus juga bisa bahagia dengan metodenya sendiri. Jujur saja sampai hari ini aku tidak menyesal sama sekali dengan keputusanku untuk menjadi berbeda, malah aku bahagia karena dengan cara ini aku menemukan banyak kawan yang bisa banget dijadiin tempat ketawa sekaligus menangis. Aku pun bersyukur hingga detik ini karena Allah Swt. selalu menyatukanku dengan orang-orang baik yang menerimaku apa adanya.
Pesan yang ingin kuutarakan bahwa kebahagiaan setiap individu itu berbeda-beda dan acapkali kebahagiaan itu harus diperjuangkan walau harus menentang arus sekalipun, namun bukan berarti kita harus menentang agama dan merugikan orang lain, tidak, tidak seperti itu. Yang aku maksudkan ialah bagaimana kita harus berani menghadapi berbagai macam risiko untuk meraih apa yang kita kejar. Kebahagiaan bagiku sesimple "punya kawan" yang mau temenan sama kita dalam kondisi apapun dan sabar menghadapi baik buruknya kita. Tabiatku cukup buruk karena agak emosional namun Allah Maha Penyayang karena tidak membiarkanku sendirian, tidak terbayang jika karena sifatku ini menjadikan tidak ada yang mau berkawan denganku. Selamat bahagia! Semoga terus bahagia dan jangan lupa bersyukur!
Good 🖒
BalasHapus