SEMUA BERAWAL DARI MASJID (1)
Tahun 2018
Aku meloka ke arah luar jendela kelas, nampak sang surya bersinar gagah menunjukkan cahaya bersuhu cukup tinggi. Tidak terasa bahwa mata kuliah sudah usai. Saatnya bergegas menuju rumah Allah untuk menunaikan kewajiban. Segera aku menuju keran dan membersihkan hadas kecil, untuk kemudian salat Zuhur berjamaah.
Siang yang berbeda dari biasanya. Entah mengapa aku tidak begitu nafsu untuk melahap makanan. Maka kuputuskan untuk melewatkan makan siang setelah salat. Untuk mengisi masa lapang, aku membuka-buka sebuah buku yang sarat akan substansi. Aku adalah tipikal mahasiswa yang tidak senang untuk langsung pulang. Aku lebih suka menghabiskan waktu di kampus, tentunya dengan melakukan hal bermanfaat. Hari itu, aku ingin mengikuti sebuah seminar "Public Speaking" yang diadakan oleh jurusan tetangga, Hub. Internasional, mengingat aku adalah anak Ilmu Politik yang bernaung pada satu fakultas dengan HI dan Sosiologi.
Acara dimulai pada pukul dua siang. Memasuki waktu acara, aku segera berjalan menuju lobby kemudian menapaki anak tangga untuk menuju tempat pelaksanaan seminar. Alhamdulillah, aku tak payah kelelahan karena hanya butuh menaiki satu rangkaian tangga (di lantai 1 setelah lobby bawah). Aura antusiasme begitu terasa. Cukup banyak mahasiswa, khususnya dari FISIP, yang minat untuk hadir pada agenda tersebut. Sontak saja aku segera mendekati meja absen, namun niat itu aku urungkan. Aku memilih untuk duduk dulu di kursi yang letaknya tidak begitu jauh dari meja absen. Mengapa tidak jadi? Jawabannya akan engkau temui pada paragraf selanjutnya.
Aku beranikan diri untuk menghampiri meja itu dan ternyata disambut cukup hangat dengan seorang mahasiswi HI, yang belakangan aku ketahui bahwa dia itu satu angkatan denganku. Jurus "SKSD" mulai beraksi, dan aku langsung bertanya pada mahasiswi itu tanpa basa-basi:
"Eh, gue bisa ikut ga? Gue anak Ilpol."
"Bisa kok, absen aja sini." jawabnya.
"Makasih ya."
Langsung aku masuk ke ruangan yang sudah dipenuhi banyak insan. Singkat cerita, acara sudah usai. Aku memutuskan untuk langsung balik ke kos, sebab pada hari itu agendaku memang sedang tidak padat. Ketika sampai di kamar kos, seketika pikiranku melayang karena diselimuti oleh rasa penasaran. Aku begitu penasaran pada mahasiswi HI tadi. Entah mengapa aku sering mengalami hal ini, paling tidak sejak SMP.
Menilik Sedikit Masa Lampau
Ketika SMP, aku begitu kagum pada anak perempuan dari kelas lain. Dia terlihat begitu anggun dan menyejukkan jiwa. Karena aku senang menjalin pertemanan dengan siapa pun, akhirnya terjadilah momen perkenalan. Muaranya pada pertemanan antara dua insan bak bumi dan langit. Aku jauh dari kata sempurna, sedangkan dia malah mencapai titik sempurna, paling tidak begitulah asumsiku kala itu.
Masuk pada masa SMA, masa-masa ajang introspeksi diri. Semenjak pertemuan dengan teman di SMP itu, aku bermunajat kepada-Nya agar dikaruniakan sahabat-sahabat terbaik pada setiap fase kehidupan. Benar saja, Allah mengabulkan itu, lagi-lagi lewat rasa penasaran. Awalnya, ketika Masa Orientasi Peserta Didik Baru (MOPDB), mataku tertuju pada seorang siswi perempuan lintas kelompok. Pada saat pembagian kelompok, aku kelompok tiga dan dirinya masuk kelompok dua. Tentu pada setiap agenda MOPDB kami bersebelahan selalu. Aku merasakan sebuah denyut tak biasa, entah mengapa ketika melihatnya hatiku teduh lagi tentram. Rasa penasaran kembali memainkan perannya dengan liar, aku bertanya-tanya "siapakah dia?". Rupanya Allah Swt. kembali mengijabah doaku. Aku disatukan pada kelas yang sama dengan dirinya, X MIPA 1. Perkenalanku pun terjadi dan kami ternyata satu frekuensi, terutama ihwal impian yang tinggi untuk bisa melanjutkan kuliah. Rona persahabatan kembali membuncah, aku diajaknya pula pada setiap kegiatan baik, seperti berdiskusi perihal mata pelajaran, aktif ekstrakurikuler, hingga menyentuh pada ranah ibadah, yakni salat wajib dan sunnah. Persahabatan itu berlangsung hingga sekarang. Terpaan konflik tidaklah memudarkan jalinan ini, justru kami menjadikannya sebagai pelajaran sehingga kami jauh dari kata perpecahan.
Kembali Pada Cerita Awal
Aku masih saja kerasan pada segelintir pertanyaan. Akankah mahasiswi itu juga akan menjadi orang terdekatku? Apakah setiap persahabatanku mesti dimulai dari tidak karuannya rasa penasaran? Entahlah, apapun yang terjadi, Allah Swt. pasti memberiku yang terbaik. Kejutan dari-Nya acap kali tidak terduga dan berbuah bahagia, semoga saja aku kembali meneguk manisnya persahabatan semasa kuliah ini.
Memasuki akhir semester satu, aku kembali dipertemukan dengannya, kali ini di masjid fakultas, masjid yang sama dengan dinamika berbeda setiap harinya. Belakangan aku ketahui bahwa ia satu kelas dengan dua kawan yang telah aku kenal.
Karakter "SKSD" kami ternyata serupa. Kami langsung cair dalam berbagai obrolan, kemudian saling follow instagram dan aku membuat story lalu aku tag dia. Maklum saja, mahasiswa baru sepertiku sedang senang-senangnya punya kawan baru. Lalu aku ketahui bahwa ia adalah anggota Lembaga Dakwah Kampus (LDK), organisasi yang ingin sekali aku ikuti sejak kelas 2 SMA, namun terpaksa ditunda karena tersendat dengan ragam konflik batin.
"Lu anak LDK?" tanyaku.
"Iya."
"Gue mau nanya dong. Oprecnya ada lagi kapan?"
"Palingan tahun depan, tapi nanti gue tanyain dulu ya ke kating." pungkasnya.
Bermula dari pertanyaan itulah kami semakin dekat hingga bertukar nomor whatsapp. Kami juga memulai obrolan maya, sungguh asyiknya berkawan dengan anak ini, wawasannya luas dan ulet dalam menghadapi teman-temannya dengan beragam karakter, termasuk diriku.
Tahun 2019
Januari dan Februari masuk masa libur. Tidak begitu banyak cerita dengannya. Namun, ada satu hal yang menjadikan kami semakin akrab, yakni ambisi untuk meraih beasiswa. Aku meng-share info beasiswa lewat story wa dan ia mengomentari. Terjadilah sirkulasi tanya jawab perihal beasiswa itu
Memasuki bulan Maret, aku kembali masuk kuliah dan bersua lagi dengannya di masjid. Seperti biasanya, kami berbincang dengan lancar dan tidak ada rasa canggung. Obrolan berlangsung dengan damai.
Kemudian selang beberapa hari masuk kuliah, ia memberi informasi yang aku tunggu-tunggu, yaitu perihal oprec LDK. Bahkan ia mengajak dengan menanyakan "lu mau ikut pelantikan LDK ga bareng gua?" Sayangnya kala itu aku sudah mengikuti UKM lain yang agendanya sibuk parah. Aku harus menyimpan keinginan masuk LDK, paling tidak memikirkan dulu bagaimana baiknya.
Tak disangka. Aku tidak menetap lama pada UKM yang aku ikuti itu, sebabnya biar aku simpan sendiri dan tidak perlu dipublikasi. Dalam UKM itu, aku juga mendapat banyak teman, salah satunya dari FIDIK yang ternyata adalah anak LDK.
"Tau enggak sih? Selain UKM ini, gue juga mau masuk LDK. Kayaknya karena gue keluar di sini, fix deh mau masuk LDK." kataku
"Wih, kebetulan gue anak LDK nih. Ayo dah ikutan, nanti kita sering ketemu di sana." jawab temanku, mahasiswi FIDIK.
Alhamdulillah, lingkar pertemanan meluas lagi. Aku telah diterima dengan baik meskipun belum lagi resmi menjadi anggota.
Aku langsung ingin menghubungi kawanku si mahasiswi HI itu. Singkat cerita, ikutlah aku pelantikan itu bersamanya dengan tiga kawan lain dari fakultas yang sama (1 HI + 2 Sosiologi).
Aku meloka ke arah luar jendela kelas, nampak sang surya bersinar gagah menunjukkan cahaya bersuhu cukup tinggi. Tidak terasa bahwa mata kuliah sudah usai. Saatnya bergegas menuju rumah Allah untuk menunaikan kewajiban. Segera aku menuju keran dan membersihkan hadas kecil, untuk kemudian salat Zuhur berjamaah.
Siang yang berbeda dari biasanya. Entah mengapa aku tidak begitu nafsu untuk melahap makanan. Maka kuputuskan untuk melewatkan makan siang setelah salat. Untuk mengisi masa lapang, aku membuka-buka sebuah buku yang sarat akan substansi. Aku adalah tipikal mahasiswa yang tidak senang untuk langsung pulang. Aku lebih suka menghabiskan waktu di kampus, tentunya dengan melakukan hal bermanfaat. Hari itu, aku ingin mengikuti sebuah seminar "Public Speaking" yang diadakan oleh jurusan tetangga, Hub. Internasional, mengingat aku adalah anak Ilmu Politik yang bernaung pada satu fakultas dengan HI dan Sosiologi.
Acara dimulai pada pukul dua siang. Memasuki waktu acara, aku segera berjalan menuju lobby kemudian menapaki anak tangga untuk menuju tempat pelaksanaan seminar. Alhamdulillah, aku tak payah kelelahan karena hanya butuh menaiki satu rangkaian tangga (di lantai 1 setelah lobby bawah). Aura antusiasme begitu terasa. Cukup banyak mahasiswa, khususnya dari FISIP, yang minat untuk hadir pada agenda tersebut. Sontak saja aku segera mendekati meja absen, namun niat itu aku urungkan. Aku memilih untuk duduk dulu di kursi yang letaknya tidak begitu jauh dari meja absen. Mengapa tidak jadi? Jawabannya akan engkau temui pada paragraf selanjutnya.
Aku beranikan diri untuk menghampiri meja itu dan ternyata disambut cukup hangat dengan seorang mahasiswi HI, yang belakangan aku ketahui bahwa dia itu satu angkatan denganku. Jurus "SKSD" mulai beraksi, dan aku langsung bertanya pada mahasiswi itu tanpa basa-basi:
"Eh, gue bisa ikut ga? Gue anak Ilpol."
"Bisa kok, absen aja sini." jawabnya.
"Makasih ya."
Langsung aku masuk ke ruangan yang sudah dipenuhi banyak insan. Singkat cerita, acara sudah usai. Aku memutuskan untuk langsung balik ke kos, sebab pada hari itu agendaku memang sedang tidak padat. Ketika sampai di kamar kos, seketika pikiranku melayang karena diselimuti oleh rasa penasaran. Aku begitu penasaran pada mahasiswi HI tadi. Entah mengapa aku sering mengalami hal ini, paling tidak sejak SMP.
Menilik Sedikit Masa Lampau
Ketika SMP, aku begitu kagum pada anak perempuan dari kelas lain. Dia terlihat begitu anggun dan menyejukkan jiwa. Karena aku senang menjalin pertemanan dengan siapa pun, akhirnya terjadilah momen perkenalan. Muaranya pada pertemanan antara dua insan bak bumi dan langit. Aku jauh dari kata sempurna, sedangkan dia malah mencapai titik sempurna, paling tidak begitulah asumsiku kala itu.
Masuk pada masa SMA, masa-masa ajang introspeksi diri. Semenjak pertemuan dengan teman di SMP itu, aku bermunajat kepada-Nya agar dikaruniakan sahabat-sahabat terbaik pada setiap fase kehidupan. Benar saja, Allah mengabulkan itu, lagi-lagi lewat rasa penasaran. Awalnya, ketika Masa Orientasi Peserta Didik Baru (MOPDB), mataku tertuju pada seorang siswi perempuan lintas kelompok. Pada saat pembagian kelompok, aku kelompok tiga dan dirinya masuk kelompok dua. Tentu pada setiap agenda MOPDB kami bersebelahan selalu. Aku merasakan sebuah denyut tak biasa, entah mengapa ketika melihatnya hatiku teduh lagi tentram. Rasa penasaran kembali memainkan perannya dengan liar, aku bertanya-tanya "siapakah dia?". Rupanya Allah Swt. kembali mengijabah doaku. Aku disatukan pada kelas yang sama dengan dirinya, X MIPA 1. Perkenalanku pun terjadi dan kami ternyata satu frekuensi, terutama ihwal impian yang tinggi untuk bisa melanjutkan kuliah. Rona persahabatan kembali membuncah, aku diajaknya pula pada setiap kegiatan baik, seperti berdiskusi perihal mata pelajaran, aktif ekstrakurikuler, hingga menyentuh pada ranah ibadah, yakni salat wajib dan sunnah. Persahabatan itu berlangsung hingga sekarang. Terpaan konflik tidaklah memudarkan jalinan ini, justru kami menjadikannya sebagai pelajaran sehingga kami jauh dari kata perpecahan.
Kembali Pada Cerita Awal
Aku masih saja kerasan pada segelintir pertanyaan. Akankah mahasiswi itu juga akan menjadi orang terdekatku? Apakah setiap persahabatanku mesti dimulai dari tidak karuannya rasa penasaran? Entahlah, apapun yang terjadi, Allah Swt. pasti memberiku yang terbaik. Kejutan dari-Nya acap kali tidak terduga dan berbuah bahagia, semoga saja aku kembali meneguk manisnya persahabatan semasa kuliah ini.
Memasuki akhir semester satu, aku kembali dipertemukan dengannya, kali ini di masjid fakultas, masjid yang sama dengan dinamika berbeda setiap harinya. Belakangan aku ketahui bahwa ia satu kelas dengan dua kawan yang telah aku kenal.
Karakter "SKSD" kami ternyata serupa. Kami langsung cair dalam berbagai obrolan, kemudian saling follow instagram dan aku membuat story lalu aku tag dia. Maklum saja, mahasiswa baru sepertiku sedang senang-senangnya punya kawan baru. Lalu aku ketahui bahwa ia adalah anggota Lembaga Dakwah Kampus (LDK), organisasi yang ingin sekali aku ikuti sejak kelas 2 SMA, namun terpaksa ditunda karena tersendat dengan ragam konflik batin.
"Lu anak LDK?" tanyaku.
"Iya."
"Gue mau nanya dong. Oprecnya ada lagi kapan?"
"Palingan tahun depan, tapi nanti gue tanyain dulu ya ke kating." pungkasnya.
Bermula dari pertanyaan itulah kami semakin dekat hingga bertukar nomor whatsapp. Kami juga memulai obrolan maya, sungguh asyiknya berkawan dengan anak ini, wawasannya luas dan ulet dalam menghadapi teman-temannya dengan beragam karakter, termasuk diriku.
Tahun 2019
Januari dan Februari masuk masa libur. Tidak begitu banyak cerita dengannya. Namun, ada satu hal yang menjadikan kami semakin akrab, yakni ambisi untuk meraih beasiswa. Aku meng-share info beasiswa lewat story wa dan ia mengomentari. Terjadilah sirkulasi tanya jawab perihal beasiswa itu
Memasuki bulan Maret, aku kembali masuk kuliah dan bersua lagi dengannya di masjid. Seperti biasanya, kami berbincang dengan lancar dan tidak ada rasa canggung. Obrolan berlangsung dengan damai.
Kemudian selang beberapa hari masuk kuliah, ia memberi informasi yang aku tunggu-tunggu, yaitu perihal oprec LDK. Bahkan ia mengajak dengan menanyakan "lu mau ikut pelantikan LDK ga bareng gua?" Sayangnya kala itu aku sudah mengikuti UKM lain yang agendanya sibuk parah. Aku harus menyimpan keinginan masuk LDK, paling tidak memikirkan dulu bagaimana baiknya.
Tak disangka. Aku tidak menetap lama pada UKM yang aku ikuti itu, sebabnya biar aku simpan sendiri dan tidak perlu dipublikasi. Dalam UKM itu, aku juga mendapat banyak teman, salah satunya dari FIDIK yang ternyata adalah anak LDK.
"Tau enggak sih? Selain UKM ini, gue juga mau masuk LDK. Kayaknya karena gue keluar di sini, fix deh mau masuk LDK." kataku
"Wih, kebetulan gue anak LDK nih. Ayo dah ikutan, nanti kita sering ketemu di sana." jawab temanku, mahasiswi FIDIK.
Alhamdulillah, lingkar pertemanan meluas lagi. Aku telah diterima dengan baik meskipun belum lagi resmi menjadi anggota.
Aku langsung ingin menghubungi kawanku si mahasiswi HI itu. Singkat cerita, ikutlah aku pelantikan itu bersamanya dengan tiga kawan lain dari fakultas yang sama (1 HI + 2 Sosiologi).
Komentar
Posting Komentar