JANGAN MAU DITINDAS!
Penindas tak akan pernah puas sebelum aku merintih kesakitan.
Penindas akan terus menggali kesalahanku sedalam-dalamnya sampai mereka dapat menjatuhkanku sejadi-jadinya.
Namun apakah dapat disimpulkan bahwa aku tertindas dan pengecut? Bisa saja, akan tetapi itu hanya berlaku pada mereka yang belum tahu cerita hidupku. Kali ini aku ingin bicara tentang kehidupan kampus.
...
Aku terlahir di sebuah daerah yang kurang bahkan tak samasekali dikenal orang. Bahkan ketika ditanya dari mana, aku langsung menjawab patokannya di kota X (agar cepat selesai) karena jika disebutkan daerahku akan lama menjelaskannya. Aku pun bukan dari sekolah favorit dan belum memiliki kecerdasan istimewa. Namun bukan itu alasan mengapa aku ditindas. Lalu apa? Semua itu karena logat bicaraku yang amat kental dengan bahasa daerah dan nadanya tinggi serta tampangku yang beda dari remaja perempuan kebanyakan, ga ada cakep-cakepnya. Uniknya, semua bentuk penindasan itu dilakukan oleh laki-laki saja, ga ngerti lagi. Kalau ga suka melihat paras saya yang tak cantik mendengar intonasi suara saya, apa susahnya menghindar? Penindasanmu ga bikin saya auto perfect dan membuat Anda jatuh cinta hadeuhhhh. Ketika ada kepentingan, baru deh baik-baikin saya sok akrab. Sudahi ya cerita ini.
...
Akhirnya saya pun bertekad kuat untuk memberontak dengan sebuah strategi. Karena saya senang berorganisasi, saya pun langsung terjun sana sini untuk pengembangan diri. Organisasi yang saya pilih pun lebih dari dua dan berfokus pada bidang yang berbeda-beda. Saya buktikan bahwa saya juga bisa cerdas di tempat lain tanpa harus menindas orang lain. Saya pun semakin rajin belajar dan ternyata Alhamdulillah berpengaruh besar terhadap nilai saya, semua meningkat pesat. Singkat saja kali ini, satu pesan yang ingin kusampaikan:
"Balas tertawaan dengan peningkatan kualitas diri. Balas penindasan dengan menjadi pemimpin atas dirimu sendiri, jangan mau dikendalikan oleh para pencari kepuasan pribadi".
Pencapaianku memang belum seberapa, namun pembuktianku selalu nyata di depan mata. Penindas selalu bekerja dalam menyingkirkanku dari mata dunia, namun ketahuilah, aku pun terus bergerak sampai pada titik di mana dunia tak lagi berpihak pada penindas. Semangat!
Komentar
Posting Komentar