Menertawakan orang dikala ia melucu adalah hal yang lumrah. Menertawakan orang dikala ia bersalah adalah hal yang sangat tidak lucu bahkan menyakitkan.
Menghakimi diri bukanlah solusi Menghentikan langkah kaki tak layak menjadi opsi Berbenah diri jauh lebih berarti Sembari membuka terpendamnya potensi Wahai diri yang lemah Aku paham kita telah bersusah payah Mengerahkan segala upaya Meski semua ini tak menghasilkan upah Apakah pantas kita mundur? Apakah kebiasaan kita adalah kufur? Lantas sekali lagi kutanya, apakah kau ingin terus futur? Jujur saja, banyak godaan menyuruh untuk kabur Diriku adalah sahabatku Ia senantiasa kuat meski kupaksa terjaga Sahabatku begitu tangguh Entah apa yang dia harapkan dariku Wahai jiwa yang lelah... Apa yang membuatmu bertahan? Mengapa kau masih sudi bersinergi dengan raga buruk rupa? Jawabannya adalah kenikmatan jalan dakwah Dakwah membuatku pantang menyerah Dakwah menghantarkan pada nikmatnya ukhuwah Masihkah berpikir picik meninggalkan jalan ini? Sudahi pikiran itu, Tuhan percaya pundakmu amat kokoh Ya Allah... Terima kasih telah menguatkan jasad ini Aku bertekad lebi...
Hari itu aku datang dengan penuh harap Postur gagah mengalahkan pengawal kerajaan Pikiran cemerlang bak baju baru tersegel Rasa optimis mengalahkan ketakutan berlebih Aku berharap dapat berkontribusi selalu Dengan terlibat aktif dalam momen berharga Sayangnya realita mengikis habis angan-angan Aku terjebak dunia semu penuh sandiwara Aku terpinggirkan oleh penjajah psikologis Akankah aku mundur tanpa permisi? Tidak, aku bukan penakut Aku bukan buronan Aku hanya ingin sistem itu berubah Aku tak ingin terus terkungkung di tengah wilayah nepotis Terbebas tanpa batas, keluar dari kenyamanan Silahkan perdaya diriku sesuka hati Kau tak lebih dari kawan berbasis kepentingan Selamat tinggal wahai kawan Aku tak pergi, hanya ingin menempuh jalan baru Sekali lagi selamat tinggal Kini aku tersadar bahwa jalan kita berbeda
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Setiap manusia ingin bahagia dan mereka berhak mendapatkannya terlepas dari cara meraih yang digunakan. Namun di sini aku tidak berbicara tentang how to get happines. Aku ingin lebih membahasakan kebahagiaan versi diriku. Kalau boleh cerita sedikit, jadi aku itu pas SMA punya tiga sahabat yang senantiasa ngerangkul aku dan mengajak pada kebaikan, sebut saja Nisa, Lina dan Ismul, ya sebut saja seperti itu karena memang nama aslinya. Sejujurnya aku sudah begitu kecewa dengan kata "sahabat" karena bagiku semua itu omong kosong belaka, orang yang kuanggap sahabat hanya datang lalu pergi meninggalkan luka dalam. Namun semenjak pertemuanku dengan mereka, tiga sahabatku, aku mulai percaya bahwa sahabat itu benar adanya, mereka senantiasa mengajakku pada kebaikan mulai dari membiasakan sholat sunnah, memperbaiki gaya berpakaian agar selayaknya seorang muslimah, meningkatkan antusiasme tinggi terhadap matematika (yang awalnya begit...
Komentar
Posting Komentar